Mengenang Pemilik Bumbu Desa, Ini Kisah Perjuangan Almarhum Menjadi Pebisnis Sukses

Cerita Sukses 14 Agt 2020, By Teman Dagang
Mengenang Pemilik Bumbu Desa, Ini Kisah Perjuangan Almarhum Menjadi Pebisnis Sukses Simak perjalanan bisnis almarhum Arief Wirawangsadita mendirikan usahanya, Bumbu Desa. (Zomato)

Dikenal sebagai pebisnis sukses, Arief S Wirawangsadita menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 08.00 WIB, Minggu 26 Juli 2020. Arief meninggal dunia sebelum merealisasikan rencananya membangun hotel baru dengan konsep yang berbeda dari dua hotel miliknya.

Perjalanan Arief menjadi pebisnis sukses tidaklah instan, meski ia mendapatkan warisan hotel peninggalan eyangnya di Garut. Ketika itu, Arief baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 1990.

Hotel warisan eyangnya sebenarnya diserahkan kepada orang tua Arief. Hanya saja, kesibukkan orang tua Arief sebagai dosen, membuat mereka menyerahkan pengelolaan hotel yang bernama “Tirtagangga” itu kepada Arief.

Kala itu, Arief masih merasa yakin dapat mengelola hotel dengan baik. Akan tetapi, ia melihat ada potensi besar dari kalangan ekspatriat di antaranya orang-orang Eropa. Selain itu, ia juga menimbang sejarah kota di mana hotel tersebut berdiri: Garut. Kota tersebut mempunyai perkebunan teh yang apik sehingga wajar banyak orang Eropa yang singgah ke Garut untuk mengenang riwayat orang tua mereka dan bernostalgia.

Arief kemudian berpikir, semua hal tersebut adalah nilai jual yang bagus. Ia kemudian memutuskan meminjam dana dari bank sebesar Rp2,5 miliar untuk modalnya merombak hotel.

Untuk mendukung jalannya usaha, Arief melakukan kerja sama dengan biro perjalanan. Ia menawarkan kerja sama dalam bentuk paket perjalanan ke objek wisata di Garut. Dari sanalah, hotel yang dikelola Arief banyak kedatangan tamu menginap.

Setahun setelah mengelola Hotel Tirtagangga, Arief semakin andal menjalankan bisnis perhotelannya. Otak bisnis Arief semakin terbentuk. Sehingga pada 1999, Arief bersama saudaranya mendirikan Kampung Sampireun Resort & Spa.

Kampung Sampireun Resort & Spa berbeda dengan hotel warisan eyangnya. Konsep Sampireun berada di atas danau dengan vila-vila di sekitarnya.Konsep tersebut memberikan pengalaman menginap baru bagi tamu-tamu yang berkunjung. Para tamu akan menyebrang naik perahu untuk sampai ke villa.

Resort dengan jumlah vila sebanyak 22 unit menghabiskan modal sebesar Rp2 miliar. Menariknya, saat mendirikan Sampireun, Arief belum mengajukan IMB. Ia beranggapan ini bukanlah tempat untuk wisata. Maka dari itu, Arief hanya mendekati masyarakat sekitar untuk dapat membangun Sampireun.

Kerumitan proses pengurusan IMB lah yang membuatnya mengambil langkah tersebut. Menurutnya, jika mengurus IMB dulu, ia perlu mengurus izin ke berbagai pihak, dari mulai pemegang saham, alim ulama, hingga ke pemerintah setempat. Nyatanya, begitu pemerintah setempat melihat tindakannya ini bisa mendatangkan turis, praktis izin sudah di tangannya. Bahkan, pembukaan Kampung Sampireun dilakukan oleh Menteri Pariwisata waktu itu, Marzuki Usman.

Sampireun dibanderol dengan harga paling murah sebesar Rp1,6 juta per malam. Tercatat, tingkat okupansi Sampireun di akhir pekan bisa mencapai 95%. Angka ini tentu sangat baik untuk bisnis perhotelan. Oleh karenanya, tak mustahil dalam waktu 3 tahun, Arief sudah mendapatkan modalnya kembali.

Lalu, Bagaimana Arief Sukses di Bidang Kuliner?

Sejak mendirikan Sampireun, Arief menetap tinggal di Garut. Sebelumnya, ia tinggal di Bandung dan melakukan perjalan bolak-balik Bandung-Garut. Setelah menetap inilah, Arief mulai melirik bisnis kuliner.

Arief melihat ada banyak kekayaan kuliner tradisional di sekitar kampung yang belum terekspos. Lalu ia memikirkan cara pengemasannya. Bukan hanya berjualan, tapi menyatukan dengan kultur yang ada.

Dari sinilah awal kemunculan Restoran Bumbu Desa yang terkenal kelezatannya. Arief mendirikan Restoran Bumbu Desa pada 2014. Ia hanya menggunakan modal sebesar Rp2,5 miliar.

Dalam mengurus bisnis restoran ini, Arief dibantu sang ibu untuk mengurus menu. Ya, ibu Arief merupakan orang Garut asli.

Sebagai pemanis, Bumbu Desa tidak hanya menyajikan sajian menu Sunda, melainkan juga pelayanan khas Sunda, seperti ucapan wilujeng sumping yang berarti selamat datang, hingga hatur nuhun alias terima kasih.

Bumbu Desa terus berkembang

Arief tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan modalnya kembali. Restoran ini membawa kesuksesan bagi Arief sehingga dalam waktu 1,5 tahun ia sudah balik modal. Bahkan, Arief berhasil melebarkan sayap dengan mendirikan cabang di Surabaya.

Keberhasilan Arief terus berlanjut. Bisnis restorannya berkembang pesat hingga memiliki 8 gerai di seluruh Indonesia. Rata-rata pengunjung di setiap gerainya mencapai 600 orang per hari. Arief pun mengaku akan menambah 8 gerai lagi ke depannya.

Gerai-gerai tersebut bukanlah sebuah bisnis waralaba. Arief memutuskan memilih menjalin kerja sama dengan berbagai pihak daripada membuka bisnis waralaba. Kini, setiap bisnis Arief, termasuk Raja Melayu yang didirikan 2006, berada di bawah kendali perusahaan masing-masing. Namun, Arief tetap mengontrol keseluruhan perusahaan.

Bagi seorang Arief, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ia sendiri pernah berencana melebarkan sayapnya lagi dengan membangun hotel baru dengan konsep yang berbeda dari dua hotel miliknya.

Apa yang Bisa Diambil dari Kisah Arief “Bumbu Desa”?

Dari kisah sukses itu kita dapat mengambil beberapa hal positif untuk tumbuh kembang usaha. Tidak harus sebesar Arief, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun bisa memiliki kesempatan berkembang yang sama. Apa yang bisa kita ambil dari perjalanan kisah sukses Arief?

  1. Arief selalu yakin

Meski tidak punya pengalaman menjalankan bisnis perhotelan, Arief tak lantas menyerah. Padahal, saat itu ia baru saja menjadi lulusan baru Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Bermodal yakin bisa melakukannya, Arief kemudian bergerak dan mencoba memulai bisnis dengan apa yang ia yakini. Ia merombak hotelnya. Ia juga memasang mata untuk memperhatikan apa yang ada di sekitarnya. Dari pengamatannya itulah ia mendapatkan pencerahan bahwa bisnis hotel ini bagus jika dikelola dengan benar.

  1. Arief melakukan kerja sama

Arief melakukan kerja sama dengan pihak biro perjalanan untuk meningkatkan kunjungan tamu hotelnya. Ia menawarkan paket-paket perjalan ke objek wisata yang ada di daerahnya. Dari kerja sama itulah, tamu-tamu hotelnya kian ramai.

Dari sini dapat diambil gambaran, usaha akan sukses jika terus melakukan inovasi, salah satunya menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Kerja sama akan membuka peluang baru untuk usaha Anda. Misal jika Anda seorang pelaku usaha kuliner, Anda dapat bekerja sama dengan ojek online sebagai jasa pesan antar makanan atau bekerja sama dengan aplikasi teknologi lainnya yang dapat mempermudah pembayaran di setiap transaksi.

  1. Arief tidak lekas puas

Arief tak pernah merasa puas dengan apa yang telah diperoleh. Bisnis dua hotelnya yang sukses tak membuat dia berhenti mencari peluang usaha lainnya. Karena semangat dan kejeliannya melihat peluang usaha baru, Arief membuka bisnis di bidang kuliner, yaitu Restoran Bumbu Desa. Siapa yang menyangka ia akan sukses besar di bisnis kuliner hingga memiliki 8 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Memang, sebagai pelaku usaha Anda dituntut untuk jeli melihat peluang yang ada di sekitar. Jadi, jangan cepat puas dengan apa yang telah dihasilkan, ya.

Dari kisah Arief, semoga Anda terus semangat dan sukses dengan usaha yang telah dijalani. Belajar dari Arief agar kelak Anda juga bisa jadi pengusaha sukses.

undefined

Teman Dagang

Berbagi cerita dan inspirasi seputar usaha