Pemuda Ini Sukses Setelah Lima Kali Lamaran Kerjanya Ditolak

Cerita Sukses 25 Jun 2020, By Reky Arfal
Pemuda Ini Sukses Setelah Lima Kali Lamaran Kerjanya Ditolak Pria di balik kesuksesan Evrawood ini sudah lima kali ditolak lamaran kerjanya (Philippinestuffs)

Wahyu Adjisetiawan, alumni Manajemen Marketing dari Universitas Negeri Surabaya, memiliki jiwa bisnis yang sangat kuat. Hal ini dimulai ketika ia berdagang serabutan ketika masih kuliah. Ketika itu, bermacam-macam usaha jualan dijajal oleh Adji, seperti kaos, celana, aneka aksesori HP, kaos, stiker, soft drink hingga proyek tender kampus pernah ditekuninya. 

Pengalamannya berjualan yang telah melanglang buana itu yang membentuk dan melatihnya menjadi seorang yang memiliki naluri bisnis yang kental, serta berani mengambil resiko dan bisa memanfaatkan peluang yang datang kepadanya.

Sebelum mencapai kesuksesan dengan brand Evrawood ini, Wahyu Adji Setiawan ternyata pernah mendapat banyak penolakan ketika ingin melamar kerja. Hal ini dimulai ketika beberapa teman kuliahnya sukses mempunyai penghasilan tambahan. 

Teman-teman Adji ketika itu banyak yang berprofesi sebagai tenaga lepas atau  di perusahaan. Lalu Adji pun mencoba peruntungan untuk  melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Tapi tak sebaik nasib sejawatnya, dirinya  malah selalu ditolak  saat melamar menjadi tenaga kerja lepas. Tak tanggung-tanggung, Adji ditolak hingga lima kali oleh perusahaan yang berbeda.

Awal Mula Adji Merintis Usaha

Tapi Adji tak tinggal diam, ia berusaha mandiri dengan mencoba peruntungan lain, yaitu menjadi seorang pengusaha. Berbekal pengalamannya berjualan semenjak di bangku sekolah menengah, Adjie mendapatkan tawaran dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya untuk mengelola toko di sana.

Pelan-pelan, Adji mendapatkan ritmenya ketika memenangkan tender pembuatan kaos mahasiswa sebanyak 1.200 buah. Di titik inilah mental Adji diuji. Uang muka sebesar 30 persen dari kampus yang diberikan tidak memenuhi persyaratan yang diberikan pabrik konveksi yang akan mengerjakan pesanannya. Pabrik tersebut mematok 50 persen uang muka di awal. Untuk menyiasati itu, ia pun terpaksa menggadaikan KTP sendiri sebagai jaminan proyek tersebut.

Mental bisnisnya yang mulai teruji tersebut ternyata diketahui oleh dosennya. Adji mendapat tawaran menarik membuat tas seminar sebanyak 200 buah dalam waktu seminggu. Tanpa basa-basi, ia pun langsung mengeksekusinya dengan melibatkan sejumlah pengrajin tas di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo.

Di titik inilah, pikiran untuk membuat brand sendiri tercetus oleh Adji. Dengan nama merek Ortiz, Adji membuat tas kasual berkualitas Internasional dengan target pasar Asia, seperti Singapura dan Malaysia. Pengalamannya dalam merintis usaha benar-benar terlihat ketika brand yang dirintisnya ini sukses dan pernah mendapat kontrak sebanyak 6 ribu tas hanya dalam waktu setahun. 

Jatuh Bangun Adji dalam Berbisnis

Sedang dalam kondisi bisnis yang stabil naik, Adji lagi-lagi terkena masalah yang cukup besar. Merek tasnya, Ortiz, terkena kasus pelanggaran paten oleh sebuah merek asal Spanyol. Perusahaan asing tersebut mengancam akan mengajukan denda sebanyak Rp7 miliar apabila produk tas milik Adji masih terus diedarkan. 

Adji pun segera menarik semua produk yang telah beredar. Dia terpaksa membayar denda kepada distributor sebesar Rp600 juta karena tak bisa memenuhi kontrak yang telah disepakati, dan terpaksa menghentikan produksinya dua bulan lamanya. 

Beberapa waktu kemudian, ia kembali mendatangi vendor dan pemasok untuk meminta pembayaran mundur. Berkat kepercayaan antara masing-masing pihak, serta reputasi yang baik dari Adji, ia bahkan mendapat pinjaman berupa bahan baku untuk kembali memulai produksinya.

Awal 2011, Adji membangun kembali bisnisnya dan mematenkan merek barunya, Evrawood. Ia merekrut orang-orang baru untuk bekerja di Evrawood dan mencoba fokus pada kualitas, baik dari segi bahan maupun cara pembuatannya. 

Saat ini, tak hanya di Indonesia, Evrawood bahkan telah melanglang buana ke sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Jerman. Tas tersebut diproduksi oleh pabrik dengan kapasitas sebanyak 1.000 unit setiap bulannya. Di Indonesia sendiri, produk Evrawood dijual mulai Rp400.000, sedangkan untuk pasar luar negeri harga jualnya berkisar Rp1,8 juta–Rp2,5 juta.  

Tips Sukses Evrawood

Pengalaman merupakan guru paling berharga dalam kehidupan berbisnis. Beberapa pengalaman yang diperoleh Wahyu Adji Setiawan ketika menjalani sejumlah bisnis memberinya pegangan kuat untuk meniti kesuksesannya.

Tiga kunci yang dapat Anda ambil dari Adji dalam meraih keberhasilannya, yaitu terus fokus, terus belajar, dan terus tekun. Terutama dengan fokus, setiap pelaku bisnis mesti selalu fokus pada satu usaha dan mempelajari bidang usaha tersebut hingga menjadi ahli. Setelah menjadi besar dan benar-benar stabil, barulah Anda bisa membuka bisnis yang baru.

undefined

Teman Dagang

Berbagi cerita dan inspirasi seputar usaha